Memahami Dinamika dalam Apresiasi Seni Rupa

Hijaz.id, Umum — Seni rupa adalah salah satu bentuk kesenian yang sudah berkembang dalam kehidupan manusia dari zaman kuno. Ketika manusia menemukan tekhnik pewarnaan seni ini pun berkembang semakin pesat.

Apresiasi seni rupa pun semakin meningkat dari zaman ke zaman. Karenanya, karya seni rupa adalah salah satu karya dengan harga yang sangat tinggi.

Bayangkan ada satu lukisan yang harganya milyaran rupiah. Tentu saja karya seni rupa bernilai tinggi bukanlah karya sembarangan. Itu merupakan hasil seni pelukis yang membutuhkan kontemplasi serta kecerdasan yang tinggi.

Jika Anda membayangkan melukis itu mudah tentu itu bisa diperdebatkan. Lukisan bernilai seni tinggi biasanya hasil pancaran jiwa dan memiliki makna yang mendalam.

Bentuk Apresiasi Seni Rupa

Bentuk Apresiasi Seni Rupa
Bentuk Apresiasi Seni Rupa

Sebagaimana sebuah seni, apresiasi selalu mengiringi kehadiran seni rupa. Ranah kesenian adalah bidang yang menyentuh perasaan bukan hanya pikiran.

Banyak orang mencintai karya seni rupa karena inilah yang membuat mereka mendapat motivasi dalam hidup.

Berikut ini merupakan bentuk-bentuk apresiasi seni rupa yang berkembang :

1. Pameran

Sebuah pameran lukisan tentu tidaklah asing bagi Anda. Pameran seni adalah event yang populer untuk memamerkan karya seni seorang atau beberapa kelompok pelukis.

Sebuah pameran seni rupa biasanya di gelar di museum atau gedung kesenian. Beberapa membuat pameran seni ini gratis namun ada pula yang berbayar.

Pameran seni lukis biasanya dibarengi dengan pertunjukkan seni yang lain seperti musikalisasi puisi, pembacaan naskah drama atau bahkan teater.

Acara besar tahunan yang bisa disaksikan di Jogja misalnya Art Jog. Ini merupakan pameran seni tahunan dari seluruh seniman di Indonesia.

Baca Juga:   Memahami Tentang Inflasi, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Penyelenggarannya biasanya berdurasi beberapa minggu. Acara ini tidak pernah sepi pengunjung.

Dalam sebuah pameran apresiasi diberikan oleh pengunjung dengan berjalan keliling melihat lukisan yang dipamerkan.

Dalam beberapa kesempatan ada acara lelang yang di dalamnya pengunjung dalam melelang karya seni. Harga yang diperoleh biasanya tidak murah karena barang yang dilelang adalah yang benilai seni tinggi.

2. Museum Seni Rupa

Jika pameran bersifat tahunan dan berdurasi relatif pendek, ada museum yang lebih berjangka panjang. Beberapa museum seni rupa bisa ditemukan di beberapa kota di Indonesia.

Salah satu yang terkenal di Jogja misalnya adalah Museum Affandi. Di museum ini terpajang karya-karya terbaik dari salah satu pelukis terkenal Indonesia, Affandi.

Meskipun tidak seramai pameran, namun museum seni rupa pasti dikunjungi orang. Apresiasi seni rupa yang diberikan adalah dengan mengenang semangat pelukis dalam karya-karyanya.

Meskipun beberapa karya seni yang berada di museum beraliran abstrak, namun pesan sosial tetap kental terasa bagi orang yang memahaminya.

3. Lelang karya

Jika dalam pameran tidak selalu ada sesi lelang, ada acara lelang seni yang diselenggarakan. Agenda utama acara ini adalah melelang sebuah karya dengan nilai seni.

Pendapatan dari acara ini tidak serta merta demi keuntungan pelukis atau pihak penyelenggara. Banyak acara lelang yang dimaksudkan untuk acara amal korban bencana atau untuk kepentingan donasi.

Banyak pengunjung yang datang ke acara lelang seni tidak sekadar ingin memiliki karya, namun memang bermaksud untuk memberikan donasi sesuai dengan tajuk yang dibuat oleh penyelenggara.

Dewasa ini, lelang seni tidak hanya dilakukan secara langsung namun sudah banyak lelang seni secara online melalui media sosial.

Apresiasi Seni Rupa Akademis

Apresasi seni rupa bukan hanya sekadar menikmati, namun juga memberikan penghargaan tinggi untuk seni rupa.

Baca Juga:   Destilasi: Pengertian, Jenis, Tujuan, dan Prinsip Kerja

Dalam ranah akademis Anda bisa menemukan banyak perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni rupa.

Umumnya setiap jurusan seni rupa memiliki tiga konsentrasi dan bidang ilmu, yaitu penciptaan, pengkajian dan penyajian.

Mulai dari yang pertama, penciptaan. Tujuan dari konsentrasi ini adalah menciptakan karya. Maka yang dipelajari dalam bidang ini adalah bagaimana menciptakan karya seni rupa untuk memajukan dunia seni.

Orang yang mempelajarinya akan belajar bagaimana membuat karya seni bernilai tinggi sehingga kelak bisa menjadi pelukis profesional.

Yang kedua adalah pengkajian. Dalam bidang ini yang dipelajarai adalah memberikan kritik terhadap suatu karya.

Kritik yang dimaksud adalah meneliti sebuah karya menggunakan teori dan sudut pandang tertentu. Kritik yang diberikan bersifat baik positif maupun negatif.

Pengkajian seni mempelajari aliran seni, tekhnik yang digunakan, hingga intrepretasi publik atas sebuah karya

Dan yang terakhir adalah penyajian. Berbeda dengan penciptaan, penyajian berfokus bagaimana membuat sebuah karya bisa sampai pada penikmatnya.

Penyajian mempelajari bagaimana mengorganisir sebuah pameran seni, membuat galeri seni sampai memperlajari soal manajeme seni.

Aliran-Aliran Apresiasi Seni Rupa

Ketika memberikan apresiasi seni rupa ada tiga perangkat yang bisa digunakan sebagai landasan dan sudut pandang.

Perangkat pertama adalah dengan pendekatan kreatif, kedua pendekatan reseptif dan ketiga pendekatan objektif.

Pendekatan kreatif akan berfokus kepada pelukisnya. Apresiasi dibuat dengan mengenal latar belakang penulis.

Perjalanan profesional dalam bidang seni rupa juga dapat dijadikan materi. Tidak hanya berhenti pada masalah tekhnis, apresiasi dengan pendekatan ini juga melihat ideologi dan idealisme yang dibawa oleh pelukis dalam karya-karyanya.

Apresiasi seni rupa berikutnya adalah dengan pendekatan reseptif. Pendekatan ini akan berfokus pada penikmatnya.

Maka yang akan dilihat adalah bagimana tanggapan penikmat ketika menerima sebuah karya. Konteks seperti apa yang ada.

Baca Juga:   Teks Ulasan: Pengertian, Tujuan, Ciri-Ciri, dan Struktur

Bahkan bisa dibandingkan tanggapan penikmat dari suatu periode zaman ke periode yang lain. Ada kemungkinan perbedaan persepsi di sini

Sebuah karya seni yang muncul pada tahun 1900-an dan diterima oleh publik pada tahun itu pula mungkin akan berbeda ketika karya yang sama dinikmati pada tahun 2000-an.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh konteks penikmat yang juga berbeda. Bisa dilihat pula apa dampak sosial yang dihasilkan oleh sebuah karya seni.

Pendekatan yang terakhir adalah pendekatan objektif. Fokus utama pendekatan ini adalah karya itu sendiri terlepas dari kaitan dengan pelukisnya maupun penikmatnya.

Apresiasi ini akan memperhatikan garis, tekhnik, media, pewarnaan dan segala hal terkait dengan lukisan itu sendiri.

Setiap apresiasi seni rupa yang sehat akan menghasilkan dampak positif. Pertama untuk pelukis, referensi dan masukan tentunya akan berguna untuk karya-karya berikutnya.

Selanjutnya untuk penikmat apresiasi yang dibagikan akan menambah cara pandang dalam memberikan intrepretasi.

Leave a Comment