Frasa: Pengertian, Ciri-Ciri, Kategori, dan Kelas

Hijaz.id, Umum — Fungsi di dalam kalimat dapat tersusun atas kata, frasa, maupun klausa. Mungkin masih banyak dari Anda yang masih merasa sulit memahami pengertian dan jenis frasa.

Akan tetapi, tenang saja karena frasa pun memiliki ciri-ciri sehingga bisa mempermudah Anda untuk memahaminya.

Frasa merupakan gabungan atau kesatuan kata yang dibentuk dari dua kelompok kata atau lebih yang mempunyai satu makna gramatikal (makna yang berubah-ubah menyesuaikan konteks).

Singkatnya, frasa ialah gabungan dari dua kata atau lebih tetapi tak bisa membentuk kalimat sempurna sebab tidak terdapat predikat.

Pengertian Frasa

Pengertian Frasa
Pengertian Frasa

Merupakan satuan yang terdiri dari dua kata ataupun lebih yang menempati satu fungsi kalimat. Frasa tak dapat membentuk kalimat sempurna sebab tidak memiliki predikat.

Contohnya:

Dua orang mahasiswa baru itu sedang makan bakso di kantin.

Perhatikan penjelasan fungsi kalimat di atas:

  • Dua orang mahasiswa (S)
  • sedang makan (P)
  • di kantin (Ket. tempat).

Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa, yaitu ‘dua orang mahasiswa’, ‘sedang makan’, dan ‘di kantin’.

Ciri-Ciri Frasa

  1. Harus terdiri dari (minimal) dua kata ataupun lebih
  2. Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal di dalam kalimat
  3. Harus memiliki satu makna gramatika
  4. Bersifat non-predikatif
  5. Selalu menduduki satu fungsi kalimat

Kategori Frasa

Frasa Setara dan Frasa Bertingkat

Disebut setara apabila unsur penyusunnya memiliki kedudukan yang sama atau setara.

Contoh:

Saya dan kakak makan-makan dan minum-minum di teras depan.

Frasa “saya dan kakak” merupakan frasa sama, karena antara unsur “saya” dan unsur “kakak” punya kedudukan yang setara atau tak saling menjelaskan. Begitu juga frasa “makan-makan” dan “minum-minum” juga termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya kata ‘dan‘ / ‘atau‘ di antara kedua unsurnya.

Baca Juga:   Prosedur: Pengertian, Tujuan, Ciri-Ciri, Struktur, dan Jenis

Selain frasa setara, ada juga frasa bertingkat. Frasa bertingkat adalah frasa yang terdiri atas inti dan atribut.

Contoh:

Paman akan pergi nanti malam.

 Pada bagian “nanti malam” terdiri atas unsur atribut dan inti.

Frasa Idiomatik

Perhatikanlah dua kalimat di bawah ini:

  1. Dalam peristiwa kebakaran kemarin, seorang warga menjadi kambing hitam.
  2. Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Paijo menyembelih seekor kambing hitam.

Kalimat (a) dan (b) memakai frasa yang sama, yaitu frasa ‘kambing hitam‘. Pada kalimat (a) kambing hitam bermakna orang yang disalahkan di dalam suatu kejadian, sedangkan pada kalimat (b) bermakna seekor kambing yang memiliki warna bulu hitam.

Makna kambing hitam di kalimat (a) tak ada hubungannya dengan makna kata kambing dan hitam. Makna yang dimilikinya tidak bisa dijelaskan berdasarkan makna kata yang membentuknya yang kemudian disebut sebagai frasa idiomatik.

Konstruksi Frasa

Perhatikan kalimat berikut:

Kedua pedagang itu telah mengadakan jual beli.

  1. Frasa Eksosentrik
    Kalimat tersebut terdiri dari frasa ‘kedua pedagang itu’, ‘telah mengadakan’ dan ‘jual beli’. Menurut distribusinya frasa ‘kedua pedagang itu’ dan ‘telah mengadakan’ adalah frasa endosentrik. Sedangkan frasa ‘jual beli’ merupakan frasa eksosentrik.

    Frasa kedua pedagang itu dapat diwakili kata pedagang. Frasa telah mengadakan juga bisa diwakili kata mengadakan. Akan tetapi, frasa jual beli tak mampu diwakili oleh kata jual maupun beli, sebab keduanya adalah inti, sehingga memiliki kedudukan yang sama.

    Frasa yang distribusinya tak sama dengan salah satu atau seluruh unsurnya disebut frasa eksosentrik.
  2. Frasa Endosentrik
    Meliputi 3 jenis yakni:
  • Frasa endosentrik yang koordinatif

Yaitu dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”. Contoh: Jendela dan pintu sedang dicat.

  • Frasa endosentrik yang atributif
Baca Juga:   Mengenal Karangan Narasi Bagi Penulis Pemula

Yang mana tersusun dari unsur-unsur yang tak setara. Contoh: Halaman luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji Hasan.

  • Frasa endosentrik yang apositif

Dilihat secara semantik, unsur yang ada pada frasa endosentrik apositif memiliki makna yang sama dengan unsur yang lainnya. Unsur yang dipentingkan adalah unsur pusat, sedangkan unsur keterangan merupakan aposisi.

Contoh: Rahma, putri Pak Ruslan, berhasil menjadi siswi teladan.

Kelas Frasa

Terbagi jenisnya menjadi beberapa kelas kata. Meliputi frasa benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.

  1. Nomina (Frasa Benda)

Frasa yang distribusisama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda, yakni kata benda. Contoh:

  • Hanna menerima hadiah ulang tahun.
  • Hanna menerima hadiah.

Alasannya karena frasa hadiah ulang tahu di kalimat distribusi sama dengan kata benda hadiah.

2. Verba (Frasa Kerja)

Frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba.

Contoh:

Hanum sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.

Disebabkan karena frasa akan menulis merupakan kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja menulis.

3. Adjektiva (Frasa Sifat)

Frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Mempunyai inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi ini bisa dilihat dari contoh frasa berikut. Contoh:

  • Karya yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
  • Karya yang dipamerkan itu-bagus-bagus.

3. Adverbia (Frasa Keterangan)

Distribusinya sama dengan kata keterangan. Biasanya, inti frasa keterangan berupa kata keterangan dan didalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.

4. Frasa keterangan sebagai keterangan

Frasa keterangan biasanya memiliki keleluasan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Sebab itu frasa keterangan dapat terletak di depan maupun di belakang subjek. Contoh:

  • Tak biasanya dia pulang larut malam
  • Dia tak biasanya pulang larut malam
  • Dia pulang larut malam tak biasanya
  • Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja
Baca Juga:   Memahami Istilah Kebijakan Fiskal Serta Dampaknya

Contoh:

Aku tidak hanya bertanya, namun juga mengusulkan sesuatu

5. Numeralia (Frasa Bilangan)

Distribusinya sama dengan kata bilangan. Umumnya, frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan adanya penambahan kata penggolong atau kata bantu bilangan. Contoh:

Tiga orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.

6. Preposisional (Frasa depan)

Frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas. Contoh:

Pria di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.

  • Ambiguitas

Ambiguitas kadang ditemukan di dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna. Contoh: Kambing hitam dan mobil tetangga baru.

Frasa kambing hitam dapat memiliki dua makna yakni kambing yang berwarna hitam dan juga suatu ungkapan yang memiliki arti orang yang dipersalahkan.

Mobil tetangga baru pun dapat pula mempunyai dua makna, yakni yang baru adalah mobil dan yang baru adalah tetangganya (bukan mobilnya).

Semoga dengan pembahasan ini, kita bisa memahaminya lebih dalam, dan jangan lupa untuk terus memperkaya diri dengan ilmu yang berguna.

Ulasan di atas tentu telah membuka wawasan dan pengetahuan kebahasaan ya. Semoga apa yang kita bahas ini dapat menjadi referensi untuk Anda.

Leave a Comment